Boja - Sanggar Nyi Pandansari Kendal menggelar pertunjukan Mahakarya Sendratari Kolosal Pertama di Boja dengan mengangkat cerita mengenai Peperangan dan Perjuangan Kemerdekaan yang pernah terjadi di Boja. Cerita perjuangan dengan judul “ Kemelut Tlatah Boja “dimainkan oleh ratusan penari asli Kendal dan digelar di halaman eks Kawedanan Boja Sabtu, (27/7). Pentas kolosan ini digelar untuk memperingati berdirinya Monumen Boja yang mengingatkan peperangan di Boja pada tanggal 29 Juli 1947 silam.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Kendal dr Mirna Annisa,M.Si, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal Drs Agus Rivai, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Kendal ( DPUPR ) Kendal Sugiyono dan ribuan warga Kecamatan Boja.
Bupati Kendal dr Mirna Annisa menyaksikan secara langsung di depan pentas menyatu dengan masyarakat. Acara diawali dengan tarian pembuka lakukan oleh penari penari asli Kendal, terdiri siswa siswi SD, SMP, SMA dan Mahasiswa Seni asal dari Kendal. Septa (26) penari asli Kendal ini merupakan tokoh dan penggagas acara. "Kami hanya ingin mengingatkan masyarakat bahwa di Boja, dulu ada perang untuk mempertahankan dan mengusir penjajah. Banyak tentara dan masyarakat Boja berjatuhan menjadi korban perang. Sajian sendratari ini sebagai bentuk kecintaan kami warga masyarakat Boja pada Tanah Air Indonesia," tuturnya.
Bupati Kendal dr Mirna Annisa, M.Si sangat mengapresiasi kiprah pertunjukan seni tari tersebut. "Ke depan akan selalu digelar acara yang sama dan ditempat yang sama. Dikatakan, kebudayaan tradisonal daerah tidak kalah dengan kebudayaan luar negeri. Saya sangat menikmati sajian seni sendra tari tadi dan sangat terharu. Saya berharap kita semua tetap bersatu padu mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.” tutur bupati.
Salah satu saksi sejarah yang masih hidup, mbah Suwandi, menceritakan suasana pertempuran tentara bersama masyarakat Boja ketika menghalau para penjajah. Peperangan memakan korban dari Darupono hingga Boja. Namun berkat pertolongan Allah, Alhamdulillah Tentara dan Masyrakat Boja berhasil mengalahkan penjajah. Sebagai bentuk penghormatan bagi tentara dan masyarakat Boja yang gugur dimedan peperangan, maka kami membuat monumen perjuangan rakyat Boja yang berada di depan kita ini, " kenang Auwandi.
"Saya sangat terharu karena masih ada pemuda pemuda yang mau mengenang perjuangan kita jaman dulu. Saya berharap seluruh pemuda Kendal tidak menggunakan dan menghindari narkoba, karena sekarang ini ada penjajahan baru muncul melalui peredaran narkoba”. ungkapnya mengingatkan. (whd/edit.kominfo).