Kendal ~ Kesenian tradisional kethoprak kolosal yang melibatkan pemain para pejabat Pemerintah Provinsi Jawa tengah dan Pemkab Kendal, yang mengangkat lakon Satria Amandita digelar Minggu malam 16/12, di Alun-alun Kendal. Cerita yang diangkat adalah seputar Sejarah perjuangan para tokoh Kendal menentang penjajahan VOC Belanda.
Beberapa pejabat provinsi Jawa tengah yang turut memainkan peran dalam lakon kethoprak yaitu Sekda provinsi Jawa tengah dan para pimpinan dinas provinsi Jawa tengah. Sedangkan pejabat daerah kabupaten Kendal yang Ikut serta bermain seni kethoprak adalah wakil bupati kendal Masrur Masykur, sekda Kendal beserta istri dan para camat se Kabupaten Kendal.
Dalam pementasan, sang sutradara sekaligus penyusun cerita, seniman Soni Wisnu Murti menuturkan sejarah Kabupaten Kendal menurut tradisi lisan. Yaitu kisah Tokoh Sejarah Kendal dari kerajaan Mataram, Pangeran Juminah yang makamnya berada di Pemakaman Protomulyo Kaliwungu Selatan. Beliau diperintah untuk melaksanakan tugas eksekusi hukuman oleh Raja Mataram.
Diceritakan, bahwa perjuangan Bupati Kendal Tumenggung Bahurekso yang dibantu oleh Tumenggung Mandurorejo dan Tumenggung Suro Agul agul mengalami kegagalan saat melakukan serangan ke Batavia. Hal itu dilaporkan kepada Raja Mataram Kanjeng Sultan Agung oleh Tumenggung Suro Agul agul yang disebutnya sebagai kesalahan Tumenggung Mandurorejo yang dituding telah melakukan khianat.
Apa yang dilakukan oleh Tumenggung Suro Agul agul itu sebenarnya adalah taktik untuk mewujudkan keinginannya menjadi Raja Mataram. Upaya tersebut ditempuh dengan bekerjasama Fihak VOC Belanda dan melakukan fitnahan yang menimbulkan suasana gaduh di antara pembesar Kerajaan Mataram. Atas laporan itu, Sultan Agung memerintahkan Saudaranya yaitu Pangeran Juminah agar menghukum membunuh Tumenggung Mandurorejo.
Namun sesampai di tempat Tumenggung Mandurorejo, beliau tidak tega dan tidak sanggup melakukannya. Pangeran Juminah malahan mendapat serangan Suro Agul agul yang berkhianat bekerja sama VOC Belanda hendak merebut kursi Raja. Sebaliknya, tumenggung Mandurorejo yang merasa tidak berhasil melaksanakan tugas raja, ia menghukum dengan membunuh dirinya sendiri.
Di saat Tumenggung Mandurorejo telah tewas, utusan dari Raja Mataram datang menyampaikan kabar. Dikatakan Bahwa raja telah memaafkan dan menghapus hukuman. Namun terlambat, semua telah terjadi sehingga utusan Raja tidak bisa mengajak bersama kembali ke kerajaan. Demikian pula Pangeran Juminah, Beliau tidak bersedia kembali pulang ke Kerajaan Mataram menduduki jabatan. Pangeran Juminah lebih memilih tinggal merawat makam Tumenggung Mandurorejo dan mendirikan Perguruan bersama para kawula di Darupono Kendal.
e-disKominfo