Berita Terkini


Berharap Pertanian Subur, Warga Gelar Sedekah Bumi

Selasa, 09 Februari 2016 14:45:59
PAGERUYUNG — Tradisi nyadran sedekah bumi di Bukit Hutan Tawing, Desa Surokonto Wetan, digelar oleh para warga di tiga desa yang berada di Kecamatan Pageruyung, beberapa waktu lalu. Kegiatan sedekah digelar dengan cara mengadakan arak-arakan kirab gunungan dari hasil pertanian. Selanjutnya dalam acara puncak, dilakukan penyembelihan Kebo Bule (Kerbau Putih).
 
Tradisi Sadranan tersebut digelar melalui doa dan makan bersama, dengan harapan tanah pertanian yang ada di tiga desa tersebut bisa subur dan membawa kemakmuran bagi warganya. Tiga desa yang melaksanan sadranan sedekah bumi itu yakni, Desa Surokonto Kulon, Suronkonto Wetan, dan Kebon Gembong.
 
Acara diawali dengan kegiatan warga membuat iring-iringan membawa nasi tumpeng setinggi satu meter dari masing-masing desa, yang kemudian diarak menuju Bukit Hutan Tawing. Arak-arakan juga disertai dengan hiburan melalui kesenian tradisional seperti pementasan Barongan dan Tari Jaran Kepang.
 
Setelah memanjatkan doa bersama, warga yang terdiri atas anak-anak dan orang dewasa itu, kemudian berebut gunungan nasi tumpeng, lengkap dengan lauk pauknya. Warga meyakini jika nasi tumpeng tersebut akan membawa berkah bagi yang memakannya. Sedangkan dalam puncaknya, Kebo Bule yang diarak kemudian disembelih, di dekat makam Kyai Joko Suro di puncak gunung Tawing, setelah sebelumnya dibacakan doa-doa. Dagingnya kemudian dibagi-bagikan ke warga setempat sebagai wujud rasa syukur.
 
Sesepuh Desa Surokonto Wetan, Sudari, mengatakan, selain wujud rasa syukur, lanjut Sudari, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka mengenang para pendiri desa, yakni Mbah Kyai Joko Suro, Mbah Kyai Salim, dan Mbah Kyai Dadap. Tiga tokoh tersebut merupakan tonggak awal berdirinya tiga desa tersebut. Ketiganya sangat dihormati karena diyakini berjasa membuat aliran air dari Bukit Hutan Tawing menuju sawah-sawah warga.
 
"Jadi dulu, tanah di tiga desa ini kering. Memiliki mata air, tapi adanya di Bukit Hutan Tawing. Lalu para pendiri desa ini mengalirkan air tersebut ke bawah sehingga sawah-sawah bisa dialiri air dan dapat ditanami padi," ujarnya.
 
Hingga sekarang, aliran tersebut masih menjadi penghidupan  warga karena sampai sekarang terus mengaliri  tiga desa tersebut. bahkan tidak hanya sawah, tapi air juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. (hms)

Indeks Berita