Berita Terkini


GREBEK ALAS SUSUK WANGAN, SEBUAH TRADISI PELESTARIAN HUTAN DAN SUMBER AIR GUNUNG UNGARAN

Senin, 22 Februari 2016 16:18:51

KENDAL - Upaya pelestarian alam untuk mendukung kehidupan manusia dilakukan dengan berbagi bebrapa hal dilakukan diantaranya dengan pelestarian hutan dan mata air sebagai dua hal yang saling terkait erat. Kontribusi warga masyarakat yang erat hubungannya dengan hal tersebut adalah " GREBEG ALAS SUSUK WANGAN " yang dilangsungkan, Jumat ( 19 / 2 ) di Desa Gondang, Kecamatan Limbangan.

Grebeg Alas Susuk Wangan bila diterjemahkan mempunyai makna melestarikan hutan dan perlindungan dan konservasi terhadap air dengan melakukan penanaman pohon dan melakukan ritual doa untuk memohon perlindungan Tuhan danmenggugah kesadaran warga untuk memelihara sumber air.

Menurut ketua panitia kegiatan Arif Pramudyo, kegiatan yang bernuansa budaya Jawa tersebut bertujuan mengkapanyekan tradisi sebagai bagian dari upaya yang cukup strategis dalam pelestarian hutan, menyampaikan pada para pemangku kepentingan tentang pentingnya menjadika n pengetahuan lokal  sebgai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan , pemerintah provinsi atau kabupaten terkait pengelolaan hutan dan simulasi pengemasan atas pengetahuan lokal hingga menjadi mudah dipelajari oleh siapapun khususnya kaum muda.

Upaya pelestarian hutan dan mata air tersebut, lanjut Arif, ditujukan untuk menggugah kesadaran warga sekitar Gunung Ungaran natara lain warga Desa Gondang, Pakis, Peron di Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal dan warga Desa kemawi, Losari, Piyanggang dan Keseneng di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Selain itu ditujukan juga untuk masyarakat sekitar Gunung Ungaran ( 21 desa ), para pemangku kepentingan di Provinsi Jawa tengah, Kabupaten kendal, Ksbupsten Semarang dan Kota Semarang dan organisasi petani, pemerhati dan pecinta alam.

Dalam Grebeg Alas Susuk Wangan dilakukan berbagai kegiatan yakni prosesi tradisi sususk wangan di sumber mata air Dusun Penggik Desa Gondang, sarasehan dialog dengan stake holder sekaligus kampanye budaya di lapangan Desa Gondang dan penanaman 10 ribu pohon di Bumen, Losari, Mawi, Gondang, Pakis dan Sumber.

Hutan Ungaran tergolong hutan yang masih realtif terjaga dan lestari jika dilihat dari kejauhan ( umumnya dari jalan raya ). Namun penilaian tersebut bertolak belakang dengan  pandangan masyarakat sekitar Gunung Ungaran yang menganggap  bahwa hutan yang berdekatan dengan interaksi keseharian mereka secara perlahan telah mengalami kerusakan. " Ini artinya, meskipun secara perlahan hutan sekitar Gunung Ungaran tetap mengalami perubahan yang mengkawatirkan, " ujar Arif.

Desa - desa di lereng Gunung Ungaran menurutnya masih terdapat desa yang memilki perhatian dan mampu melakukan upaya pengendalian supaya hutannya tetap lestari. Salah satu faktor kunci yang menyebabkan mereka mereka mampu menjaga kelsetarian hutan di sekitar mereka adalah faktor budaya atau yanh disebut kearifan lokal ( local wisdom ). Desa Peron, Desa Pakis dan Desa Gondang di Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal serta Desa losari, Kemawi dan Bumen di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang merupakan beberapa desa yang menunjukkan bahwa pengetahuan dan praktek - praktek budaya lokal punya kontribusi penting dalam upaya pelestarian hutan.

Kedekatan kehidupan dengan hutan menumbuhkan ikatan - ikatan imajiner antara para warga desa dengan alam hutan sekitarnya. Ikatan dengan alam tersebut memberikan pengetahuan tentang bagaimana mereka memperlakukan lingkungannya. Etika, sikap kelakuan, gaya hidup dan tradisi yang tumbuh mempunyai implikasi posistif terhadap pemeliharaan dan pelestarian lingkungan khususnya hutan.

Desa - desa tersebut lokasinya berbatasan langsung dengan hutan ungaran. Setiap tahun di desa tersebut melakukan penyelenggaraan tradisi Susuk Wangan, sebuah tradisi yang dilakukan untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada yang maha kuasa karena masih dapat menggunakan air untuk mencukupi kebutuhan produksi dan rumah tangga. Ucapan terima kasih selain diungkapkan dengan sedekah atau selamatan juga dilakukan dengan bersih - bersih sungai dan tempat - tempat sumber air ( wangan ).

Tradisi Susuk Wangan terdapat di semua desa di sekitar Gunung Ungaran, namun kualitas maknanya telah mengalami kemunduran. Tradisi sebenarnya sangat strategis untuk disambungkan dengan pelestarian hutan. " Akan sangat disayangkan jika tradisi tersebut lambat laun hilang lantaran tidak adanya penyampaian detil dan mendalam tentang makna di balik tradisi, " ucap Arif. ( 03 / heDJ )

 

 

 

 

 


Indeks Berita